Pemeriksaan Hemoglobin

Pemeriksaan Hemoglobin – Hei kawan apa kabarnya nih? semoga sehat selalu yah. Yang lagi kuliah semoga kuliahnya lancar, yang lagi ujian hasilnya memuaskan dan yang lagi sakit semoga lekas disembuhkan.

Ngomong-ngomong tentang sakit, ada yang pernah denger istilah hemoglobin nggak sih? Klo belum, Pada artikel kali ini salah seorang mahasiswa penulis lomba di  PT. Andaru Persada Mandiri selaku Distributor Alat Laboratorium akan membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan hemoglobin loh, yuk kita baca lebih lanjut.

pemeriksaan hemoglobin

Pengertian Hematologi

Hemoglobin merupakan molekul yang terdiri dari kandungan heme (zat besi) dan rantai polipeptida globin (alfa,beta,gama, dan delta), berada di dalam eritrosit dan bertugas untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah ditentukan oleh kadar haemoglobin. Stuktur Hb dinyatakan dengan menyebut jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul asama amino pada rantai alfa, dan 146 mol asam amino pada rantai beta, gama dan delta.

Nama Hemoglobin merupakan gabungan dari heme dan globin. Heme adalah gugus prostetik yang terdiri dari atom besi, sedang globin adalah protein yang dipecah menjadi asam amino. Setiap orang harus memiliki sekitar 15 gram hemoglobin per 100 ml darah dan jumlah darah sekitar lima juta sel darah merah per millimeter darah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan 5 6 jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indek kapasitas pembawa oksigen pada darah.

Hemoglobin adalah senyawa senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah

Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas ( daya gabung ) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan.

Prinsipnya adalah hemoglobin diubah menjadi cyanmethemoglobin dalam larutan drabkin yang berisi kalium sianida dan kalium ferisianida. Absorbensi larutan diukur pada panjang gelombang 540 nm. Larutan drabkin yang dipakai untuk mengubah hemoglobin, oxyhemoglobin, methemoglobin, dan karboxymoglobin menjadi cyanmethemoglobin, sedang sulfhemoglobin tidak berubah karena tidak diukur. Cara ini sangat bagus untuk laboratorium rutin dan sangat dianjurkan untuk penetapan kadar hemoglobin dengan teliti karena standar cyanmethemoglobin yang ditanggungkan kadarnya stabil dan dapat dibeli. Larutan drabkin teridri atas natrium bikarbonat 1 gram, kalium sianida 50 mg, kalium ferisianida 200 mg, aqudest 100 ml. (Gandasoebrata, 2006)

Metode cyanmethemoglobin adalah yang paling popular karena metode ini secara praktis mengukur seluruh hemoglobin, selain sulfohemoglobin. Kelebihan dari metode ini adalah standar yang digunakan tetap stabil dalam waktu yang lama. Menurut metode ini, darah dicampur dengan larutan Drabkin untuk memecah hemoglobin menjadi cyanmethemoglobin, daya serapnya kemudian diukur pada panjang gelombang 540 nm dalam calorimeter fotoelektrik atau spektrofotometer. Penggunaan HbCN dalam menentukan kadar hemoglobin yaitu dengan mengencerkan darah sebanyak 250 kali dalam volumenya dengan larutan Drabkin.

Penentuan nilai hemoglobin tergantung pada kemampuan untuk mengabsorbsi cahaya pada ratio kuning hijau yang merupakan spectrum sinar tampak. Darah diencerkan dengan menggunakan larutan yang mengandung kalium sianida dan kalium ferisianida yang akan mengubah semua jenis hemoglobin. Dalam pemeriksaan hemoglobin metode cyanmethemoglobin digunakan photometer 5010 dengan menggunakan larutan Drabkin.

Fungsi Hemoglobin

  1. Mengangkut O2 dari organ respirasi ke jaringan perifer dengan cara membentuk oksihemoglobulin. Oksihemoglobin ini akan beredar secara luas pada seluruh jaringan tubuh. Jika kandungan O2 di dalam tubuh lebih rendah dari pada jaringan paru-paru, maka ikatan oksihemoglobulin akan dibebaskan dan O2 akan digunakan dalam metebolisme sel.
  2. Mengangkut karbon dioksida dari berbagai proton, seperti ion Cldan ion hidrogen asam (H+ ) dari asam karbonat (H2CO3) dari jaringan perifer ke organ respirasi untuk selanjutnya diekskresikan ke luar. Oleh karena itu, hemoglobin juga termasuk salah satu sistem buffer atau penyangga untuk menjaga keseimbangan pH ketika terjadi perubahan PCO2

Struktur Hemoglobin

Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Hemoglobin adalah suatu protein dalam sel darah merah yang mengantarkan oksigen dari paru-paru ke jaringan di seluruh tubuh dan mengambil karbondioksida dari jaringan tersebut dibawa ke paru untuk dibuang ke udara bebas.

Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. Mutasi pada gen protein hemoglobin mengakibatkan suatu golongan penyakit menurun yang disebut hemoglobinopati, di antaranya yang paling sering ditemui adalah anemia sel sabit dan talasemia.

Hemoglobin tersusun dari empat molekul protein (globulin chain) yang terhubung satu sama lain. Hemoglobin normal orang dewasa (HbA) terdiri dari 2 alpha-globulin chains dan 2 beta-globulin chains, sedangkan pada bayi yang masih dalam kandungan atau yang sudah lahir terdiri dari beberapa rantai beta dan molekul hemoglobinnya terbentuk dari 2 rantai alfa 8 dan 2 rantai gama yang dinamakan sebagai HbF. Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 subunit protein), yang terdiri dari masing-masing dua subunit alfa dan beta yang terikat secara nonkovalen. Subunit-subunitnya mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap subunit memiliki berat molekul kurang lebih 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi sekitar 64,000 Dalton.

Pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang dikenal dengan porfirin yang menahan satu atom besi; atom besi ini merupakan situs/loka ikatan oksigen. Porfirin yang mengandung besi disebut heme . Tiap subunit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen. Pada molekul heme inilah zat besi melekat dan menghantarkan oksigen serta karbondioksida melalui darah.

Kapasitas hemoglobin untuk mengikat oksigen bergantung pada keberadaan gugus prastitik yang disebut heme. Gugus heme yang menyebabkan darah berwarna merah. Gugus heme terdiri dari komponen anorganik dan pusat atom besi. Komponen organik yang disebut protoporfirin terbentuk dari empat cincin pirol yang dihubungkan oleh jembatan meterna membentuk cincin tetra pirol. Empat gugus mitral dan gugus vinil dan dua sisi rantai propionol terpasang pada cincin ini ( Nelson dan Cox, 2005 ).

Hemoglobin juga berperan penting dalam mempertahankan bentuk sel darah yang bikonkaf, jika terjadi gangguan pada bentuk sel darah ini, maka keluwesan sel darah merah dalam melewati kapiler jadi kurang maksimal. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kekurangan zat besi bisa mengakibatkan anemia. Jika nilainya kurang dari nilai diatas bisa dikatakan anemia, dan apabila nilainya kelebihan akan mengakibatkan polinemis

Setiap rantai globin terdiri atas delapan daerah helik dan terdapat daerah nonhelik di antara daerah helik tersebut dan pada terminal-terminal karboksil dan amino. Sekelompok heme letaknya tersisip ke dalam celah yang terdapat pada permukaan dari tiap-tiap rantai globin. Heme pada dasarnya bersifat nonpolar dan sebagian  penggabungannya dengan globin dipertahankan oleh interaksi hidrofobik dengan asam amino nonpolar pada lapisan celah heme tersebut. Tiap-tiap atom besi yang terdapat pada heme dapat membentuk hingga enam ikatan dan empat ikatan di antaranya terbentuk akibat ikatan antara atom besi tersebut dengan atom pirol nitrogen.

Rantai yang sebelah tepi dari residu-residu histidin (asam amino E7 dan F8 di dalam rantai α dan β ) terletak pada tiap tepi bidang datar dari kelompok heme yang berinteraksi dengan atom besi, akan tetapi hanya satu di antaranya yang membentuk ikatan permanen, yaitu bagian proksimal dari histidin sedangkan bagian distalnya  berhubungan dengan sekelompok heme tetapi tidak membentuk ikatan dengan atom besi. Enam ikatan terbentuk oleh adanya molekul oksigen, di mana penggabungannya dengan heme yang  berada di tepi distal.

Faktor-Faktor  Yang mempengaruhi  Hemoglobin

Faktor – faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin yaitu :
Internal :

Kecukupan Besi dalam tubuh

Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. Kurang lebih 4 % besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatif. Walaupun jumlahnya sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting. Mioglobin ikut dalam transport oksigen dan memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan ATP, sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan kemampuan kerja. (WHO dalam Zarianis, 2006)

Metabolisme Besi dalam Tubuh

Ada 2 bagian besi dalam tubuh yaitu bagian fungsional yang dipakai untuk keperluan metabolik dan bagian yang merupakan cadangan. Hemoglonbin, mioglobin, sitokrom, enzim hem & non heme adalah bentuk besi fungsional dan berjumlah 25-55 mg/kg BB. sedangkan besi cadangan apabila digunakan untuk fungsi-fungsi fisiologisnya jumlahnya 5-25 mg/kg BB. Feritin & hemosiderin adalah bentuk besi cadangan yang biasanya terdapat dalam hati, limpa & sumsum tulang. Metabolisme besi dalam tubuh terdiri dari proses absorpsi, pengangkutan, pemanfaatan, penyimpanan dan pengeluaran

Keasaman / pH

Keasaman bertambah & kadar ion H+ meningkat akan melemahkan ikatan antara O2 dan Hb sehingga Afinitas Hb terhadap O2 berkurang sehingga Hb melepaskan lebih banyak O2 ke jaringan.

Tekanan Parsial O2

Apabila PO2 darah meningkat, Hb berikatan dengan sejumlah O2 mendekati 100% jenuh, afinitas Hb terhadap O2 bertambah dan kurva digosiasi O2 Hb bergerak ke kiri dan sebaliknya.

Tekanan Parsial CO2

PCO2 darah meningkat dikapiler sistemik, CO2 berdisfusi dari sel ke darah mengikuti penurunan gradien menyebabkan penurunan afinita Hb terhadap O2, kurva disosiasi O2 Hb bergeser ke kanan dan sebaliknya.

Temperatur atau suhu

Panas yang dihasilkan dari reaksi metabolisme dari kontraksi-kontraksi otot melepaskan banyak asam & panas menyebabkan temperatur tubuh naik dan sel aktif perlu banyak O2 memacu pelepasan O2 dari Oksi Hb. kurva bergeser ke kanan

Eksternal :

Reagen

Reagen adalah bahan pereaksi yang harus selalu baik kualitasnya mulai saat penerimaan, semua reagen yang harus dibeli diperhatikan nomor lisensi kadaluarsanya, keutuhan wadah/botol/cara transportasinya.

Metode

Petugas laboratorium harus senantiasa bekerja dan mengacu pada metode yang digunakan.

Bahan Pemerikasaan

Meliputi : cara pengambilan spesimen, pengiriman, penyimpanan, dan persiapan sampel

Lingkungan

Berupa keadaan ruang kerja, cahaya, suhu ruang, luas & tata ruang.

Prinsip Metode cyanmethemoglobin

Pengukuran Hb dengan metode cyanmethemoglobin adalah hemoglobin dengan K3Fe(CN)6 akan diubah menjadi methemoglobin yang kemudian menjadi hemoglobin sianida (HiCN) oleh KCN.

Prosedur Kerja  Metode Cyanmethemoglobin

Alat:

  • Spektrofotometer

alat-spektro-untuk-pengujian-hemoglobin

  • Mikropipet 20 ml dan 5 ml

alat-mikropipet-untuk-pengujian-hemoglobin

  • Tabung reaksi

alat-tabung-rekasi-untuk-pengujian-hemoglobin

Bahan:

  • Larutan Drabkin :
  1. KCN 0,768 mmol/l …………. 50 mg
  2. K3Fe(CN)6 0,607 mmol/l ………. 200 mg
  3. KH2PO4 1,029 mmol/l ………..140 mg
  4. Non ionic detergent ………… 0,5 – 1 ml
  5. Akuades deionized ad ……… 1000 ml
  • PH 7,0 – 7,4
  • Warna harus kuning pucat, jernih, bila dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm, dengan air sebagai blanko, serapan harus nol. Larutan ini harus disimpan dalam botol coklat dan tiap bulan dibuat larutan baru.
  • Cyanmethemoglobin standar (siap pakai)
  • Antikoagulan EDTA
  • Darah Vena/ kapiler

Cara Kerja:

  1. Di Siapkan Alat dan Bahan yang akan digunakan.
  2. Dipipet larutan Drabkin sebanyak 5 mk kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi.
  3. Dipipet darah vena/kapiler Sebanyak 20 ml
  4. Kelebihan darah yang melekat pada bagian luar pipet dihapus dengan kain kasa kering/kertas tissue
  5. Darah dalam pipet dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi larutan Drabkin.
  6. Pipet dibilas beberapa kali dengan larutan Drabkin tersebut.
  7. Campur larutan ini dengan cara menggoyang tabung perlahan-lahan hingga larutan homogen dan dibiarkan selama 3 menit.
  8. Baca dengan spektrofotometer pada gelombang 546 nm, sebagai blanko digunakan larutan Drabkin.
  9. Kadar Hb ditentukan dengan perbandingan absorban sampel dengan absorban standar

C Sampel = A Sampel X C Standar / A Standar

Interpretasi Hasil

  • Laki – laki dewasa : 13,0 – 18,0  g/dl
  • Wanita dewasa : 11,5 -16,5  g/dl
  • Wanita hamil : 11,0 – 16,5  g/dl
  • Anak – anak (3 -6 tahun) : 12,0 – 14,0  g/dl
  • Bayi : 13,5 – 19,5 g/dl

Kesimpulan

  • Cara cyanmethemoglobin adalah cara yang dianjurkan untuk penetapan kadar hemoglobin dilaboratorium karena larutan standar Cyanmethemoglobin sifatnya stabil, muda diperoleh dan pada cara ini hampir semua hemoglobin terukur kecuali sulfhemoglobin. Pada cara ini ketelitian yang dapat dicapai ±2%.
  • Kadar hemoglobin bayi baru lahir tinggi dari pada orang dewasa yaitu berkisar antara 13,5 – 19,5 g/dl. Kemudian kadar hemoglobin menurun pada umur 3 tahun mencapai kadar paling rendah yaitu 12,0 – 14,0 g/dl.

Ditulis oleh : Jumriani – Maret 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat