Tributyltin (TBT) pada air adalah senyawa kimia organotin yang sangat beracun, umumnya digunakan sebagai komponen biosida dalam cat anti-fouling (anti-teritip) pada lambung kapal dan jaring akuakultur. TBT mencemari perairan, bersifat persisten, dan dapat mengganggu reproduksi serta menyebabkan bioakumulasi pada organisme laut. Fungsi utama TBT adalah mencegah pertumbuhan organisme laut seperti alga dan kerang pada permukaan kapal. Namun, seiring berjalannya waktu, senyawa ini terbukti memiliki dampak negatif yang serius terhadap lingkungan perairan, sehingga penggunaannya kini dibatasi atau dilarang di berbagai negara. Di perairan, tributiltin bisa larut dalam air atau melekat pada sedimen. Senyawa ini memiliki daya tahan tinggi, sulit terurai secara alami, dan bisa menumpuk di dalam tubuh makhluk hidup.

Sumber TBT berasal dari:
- Cat Antifouling Kapal: TBT (senyawa organotin) digunakan sebagai aditif biosida beracun dalam cat untuk mencegah biofouling (penempelan organisme) pada lambung kapal, yang melepaskan senyawa ini langsung ke perairan.
- Aktivitas Maritim dan Pelabuhan: Area pelabuhan, dermaga, tempat bongkar muat, dan galangan/perbaikan kapal menjadi pusat penyebaran TBT karena aktivitas padat.
- Pembuangan Limbah Industri: Pembuangan limbah yang tidak diolah dari industri yang mungkin menggunakan produk berbasis TBT ke badan air.
- Akumulasi di Sedimen: TBT bersifat hidrofobik dan cenderung teradsorpsi pada partikel tersuspensi, yang kemudian mengendap ke dasar perairan (sedimen), menjadikannya sumber pencemaran jangka panjang.
Meskipun penggunaannya telah dibatasi, sisa-sisa senyawa ini masih sering ditemukan di perairan dekat aktivitas pelabuhan dan industri perkapalan.
Dampak tributyltin (TBT)
- Bioakumulasi dan Biomagnifikasi: TBT terakumulasi dalam jaringan organisme laut dan meningkat konsentrasinya melalui rantai makanan.
- Kerusakan Ekosistem: TBT merusak ekosistem bakau, terumbu karang, dan berbagai biota laut seperti ikan, kerang, serta keong.
- Toksisitas Tinggi: Sebagai racun, TBT berdampak negatif pada organisme air non-target.
- Pencemaran Ekosistem Perairan: TBT merupakan bahan beracun yang sulit terurai (persisten).
- Imposeks pada Biota Laut: TBT menyebabkan fenomena imposeks, yaitu tumbuhnya organ seksual jantan pada betina, yang memicu gangguan reproduksi hingga kepunahan lokal.
- Menurunkan Kualitas Air: Kontaminasi TBT dapat merusak kualitas air secara keseluruhan.
- Kesehatan Manusia: Meskipun dampaknya tidak langsung, akumulasi TBT pada biota laut yang dikonsumsi dapat berpotensi memengaruhi kesehatan manusia.
Karena bersifat racun dan daya tahannya yang kuat di perairan, tributiltin sering digunakan sebagai tanda adanya pencemaran, terutama di daerah pesisir dan pelabuhan. Pemantauan kadar TBT di air dan sedimen sangat penting untuk mengevaluasi kualitas lingkungan perairan serta seberapa efektif kebijakan pengendalian pencemaran. Pemantauan kadar Tributyltin (TBT) di air sangat penting untuk mengevaluasi kualitas lingkungan perairan serta efektivitas kebijakan pengendalian pencemaran. Salah satu metode yang umum digunakan untuk analisis Tributyltin adalah Gas Chromatography (GC). Karena mampu mendeteksi senyawa organotin dengan sensitivitas dan selektivitas yang tinggi. Penjelasan lebih lanjut mengenai pengujian Tributyltin pada air menggunakan GC akan dibahas pada artikel selanjutnya.
PT. Andaru Persada Mandiri adalah distributor alat laboratorium spektrofotometer, jika anda membutuhkan spektrofotometer uv vis bisa menghubungi kami di whatsapp 087777277740 atau telepon 0251-7504679. Link alamat kami sertakan pada Google Maps.
Demikian artikel “Pengujian Pestisida pada Air Sungai Menggunakan GC“, semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih.


