Siapa itu Laboran? Yuk kita kenalan!

Laboran. Apa yang terbesit dibenak kalian ketika pertama kali mendengar kata laboran? hmm… yang berhubungan dengan laboratorium? orang-orang yang bekerja di laboratorium? yap, benar sekali. Tapi…tunggu dulu. Rasanya terlalu sempit jika kita mendefinisikan nya hanya dengan pernyataan itu. Karena nyatanya, laboran tidak hanya bekerja di laboratorium, tapi ia punya banyak peran penting lain yang sangat sentral . Penasaran?yuk kita kenalan.

siapa-itu-laboran

Kalau kita coba cari dalam pengertian, laboran adalah orang yang bertugas membantu aktivitas mhasiswa atau dosen di laboratorium dalam melakukan suatu kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Nah…tapi itu baru pengertian sempitnya loh..karena ternyata laboran punya banyak peran yang cukup besar dan juga tidak selalu berada di belakang layar.

Karena laboran harus memiliki beberapa keahlian, diantaranya sebagai teknisi, yaitu orang yang berperan untuk beroperasinya peralatan laboratorium. Dan yang kedua, analisis pada bidang tertentu. Dan seorang laboran ini biasa bekerja pada berbagai bidang, diantaranya farmasi, analis kimia, analis kesehatan, dan bidang kesehatan lainnya.

Untuk kualifikasinya sendiri, biasanya seorang laboran merupakan sumberdaya manusia yang mempunyai kompetensi dan pemahaman dalam bidang kimia dengan kualifikasi minimum Diploma (D-3). Dan yang pasti, seorang laboran juga harus tekun, cakap berkomunikasi, kreatif dan inovatif dalam bidang pengelolaan laboratorium yang sangat bermanfaat dan yang dapat berupa :

  • Pengembangan kinerja peralatan dan bahan yang ada di laboratorium
  • Pengembangan metode kerja peralatan yang ada di laboratorium
  • Pengembangkan metode pengujian/kalibrasi dan atau produksi dalam skala terbatas menggunakan peralatan dan bahan yang ada dilaboratorium
  • Peningkatan mutu produk dalam skala laboratorium
  • Pengembangan sistem pengelolaan laboratorium
  • Pembuatan karya produk inovatif

Kalau dilihat dari peran-perannya, sudah pasti seorang laboran harus kenal dan terbiasa dengan bahan-bahan kimia yang ada di laboraorium. Wah…gimana tuh? susah tidak ya? Eits..tunggu dulu, bahan kimia tidak seperti yang kalian bayangkan loh, jika kita mengetahui dan menggunakannya sesuai prosedur, semuanya pasti akan berjalan baik-baik saja sebagaimaa mestinya.

Dan hal pertama yang harus dijalankan pastinya “kenalan”. Ya, seorang laboran harus mengenal semua bahan kimia, berbeda dengan menghapal, berkenalan disini diartikan bahwa seorang laboran harus mengetahui fungsi dan sebab-akibat dari bahan kimia tersebut, karena jika tidak sesuai prosedur, beberapa bahan kimia dapat menimbulkan reaksi-reaksi yang pastinya merugikan kan..? Nah berikut ada beberapa prosedur bagi kita bahkan laboran agar tidak menyalahgunakan bahan-bahan kimia saat berada di laboratorium berdasarkan Undang-Undang No. 1/1970, Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan MSDS atau LDKB (Lembar Data Keselamatan Bahan) atau dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.472 tahun 1996 disebut LDP (Lembar Data Pengaman), berikut ulasannya:

  1. Pemasangan rambu-rambu K3 meliputi peringatan bahaya sesuai jenis, golongan bahan kimia atau pestisida harus dipasang dengan jelas, mudah dibaca, dimengerti dan terlihat oleh pekerja.
  2. Spesifikasi mutu kemasan/wadah harus tertulis dengan jelas dalam lembaran PP/PO dengan memperhatikan keamanan, ketahanan, efektifitas dan efisiensi. Khusus dalam hal drum (plastik/besi), botol/ bejana bertekanan, harus dicantumkan WARNA yang disesuaikan dengan jenis/golongan gas.
  3. Setiap pembelian/pengadaan bahan kimia (pestisida atau bahan kimia pabrik) harus dicantumkan dengan jelas di dalam lembar PP/PO tentang kelengkapan informasi bahan berupa : (Labeling, Informasi dampak bahaya, Informasi P3K , APD, dan penaganan darurat)
  4. Setiap kecelakaan, tumpahan, kebakaran, termasuk kondisi berbahaya yang tidak mungkin dapat diatasi sendiri, haruslah dilaporkan secepatnya kepada atasan. Berikanlah keterangan yang benar kepada petugas Investigasi guna memudahkan pengambilan langkah-langkah perbaikan selanjutnya agar kasus yang sama tidak terulang kembali.
  5. Lorong agar tetap terjaga dan tidak terhalang oleh benda apapun untuk melakukan inspeksi, jika perlu dibuatkan garis pembatas lintasan alat angkat dan angkut.
  6. Khusus bahan dalam wadah silinder/tabung gas bertekanan agar ditempatkan pada tempat yang teduh, tidak lembab dan aman dari sumber panas seperti (listrik, api, ruang terbuka)
  7. Bahan kimia tidak langsung bersentuhan dengan lantai gudang (menggunakan alas).
  8. Setiap pekerja yang tidak berkepentingan dilarang memasuki gudang penyimpanan bahan kimia atau pestisida dan setiap pekerja yang memasuki gudang harus memakai APD yang disyaratkan.
  9. Pada setiap penyimpanan bahan kimia atau pestisida harus dilengkapi dengan LABELING (label isi, safety, resiko bahaya) dan MSDS atau Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB).
  10. Baca label bahan sekurang kurangnya dua kali untuk menghindari kesalahan dalam pengambilan bahan misalnya antara asam sitrat dan asam nitrat.
  11. Setiap pekerja dilarang makan dan minum ditempat penyimpanan bahan kimia terutama yang beracun.
  12. Hanya pekerja yang sudah mengerti tugas dan tanggung jawab serta adanya rekomendasi dari atasannya dibenarkan menangani pekerjaan pengangkutan bahan kimia berbahaya.
  13. Menaikkan dan menurunkan bahan kimia harus dilakukan dengan hati-hati, jika perlu buatkan bantalan karet/kayu.
  14. Pindahkan sesuai jumlah yang diperlukan.
  15. Jangan menggunakan bahan kimia secara berlebihan.
  16. Jangan mengembalikan bahan kimia ke tempat botol semula untuk menghindari kontaminasi, meskipun dalam hal ini kadang terasa boros.

Tidak berakhir sampai situ, seorang laboran juga mempunyai jam kerja yang bahkan terkadang lebih dari mahasiswa dan dosen  loh.  Karena seorang laboran harus menyiapkan segala kebutuhan praktikum ataupun penelitian dari mahasiswa dan dosen, yang otomatis mereka harus datang lebih pagi dan pastinya pulang lebih larut. Walaupun bergantian atau yang kita biasa kenal dengan shift, tapi ini sudah menjadi konsekuensi tersendiri bagi laboran. Dan tidak jarang, karena kelelahan, mahasiswa menjadi sasarannya. Sasaran? bentar-bentar.. jangan berpikir yang aneh-aneh dulu ya, karena yang dimaksud “sasaran” disini juga merupakan sebab-akibat dari mahasiswa itu sendiri.

Jadi, jika kita sebagai mahasiwa analis, farmasi atau yang lainnya, pastikan  jika sudah menggunakan alat praktikum atau penelitian, cuci bersih semua alat dan kembalikan pada ruang alat ya. Karena tidak jarang beberapa mahasiswa masih ada yang tidak patuh akan hal ini, ada beberapa yang tidak tahu, lupa, atau bahkan malas. Nah..ini yang bahaya. Yang namanya menggunakan laboratorium, pastikan kita sudah bekerja sama dan mencintai dengan semua aspek yang ada didalamnya, seperti mematuhi prosedur. Karena dengan begitu, kita sudah turut andil dalam mengurangi beban seorang laboran.

Seperti yang sudah dibahas tadi, agar kita mengenal semua aspek yang ada di dalam laboratorim, seperti bahan kimia dan peralatannya, kita harus mencintai setiap pekerjaan yang sedang kita lakukan di dalamnya, juga menerapkan semua prosedur yang tersedia. Karena, jika sudah diterapkan, dipastikan kerja laboran akan menjadi lebih ringan, dan kita sebagai mahasiswa akan lebih mencintai laboratorium. Dan kalau sudah cinta, segala sesuatu yang kita kerjakan di laboratorium pun akan terasa mudah dan pastinya seorang laboran pun akan lebih nyaman dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, yuk kita terapkan. Salam Cinta Laboratorium!

Ditulis oleh : Dinar – Maret 2019

Mereferensi (daftar pustaka) :

  • Rahmat, Wira (2018).  Alat Kimia. Dikutip 8 Maret 2019 dari Learning Everyday sumber
  • Ristekdikti (2016).  Pedoman Pemilihan Laboran Berprestasi. Dikutip 8 Maret 2019 dari Ristekdikti
  • Laksono, Budi (2016).  Job Description Tenaga Laboratorium Sekolah. Dikutip 10 Maret 2019 dari Media Pembelajaran, Share Info Pendidikan, Perikanan dan Pegawai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat