PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons) dalam Air

PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons) adalah jenis polutan lingkungan yang terbentuk dari proses pirolisis atau pembakaran yang tidak sempurna dari senyawa organik. Seperti pembakaran bahan bakar minyak, kayu, sampah, serta bahan organik lainnya. PAH adalah kelompok zat kimia yang rumit dan terdiri dari dua atau lebih cincin aromatik. PAH adalah senyawa kimia yang bersifat karsinogenik, sehingga keberadaannya dalam makanan menjadi salah satu hal yang terus dianalisis. Benzo[a]piren adalah salah satu senyawa PAH yang bersifat karsinogenik.

Indonesia menetapkan batas tertinggi bagi kadar benzo[a]piren serta total senyawa benzo[a]piren, benz[a]anthracene, benzo[b]fluoranthane, dan chrysene yang dijelaskan dalam SNI 7501:2009. Enviromental Protection Agency (EPA) menetapkan dari 100 jenis senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon terdapat 16 jenis PAH yang berbahaya. 16 jenis senyawa tersebut adalah asenaftena, benzo(a)antrasena, benzo(a)pirena, benzo(a)fluorantena, benzo(k)fluorantena, benzo(g)perilena, benzo(h)perilena, benzo(i)perilena, krisena, fluorantena, fluorena, indeno(1,2,3-cd)pirena, naftalena, fenatrena dan pirena. Senyawa yang paling beracun di antara 16 senyawa tersebut adalah senyawa benzo(a)piren.

Polutan yang terdapat dalam air dapat berasal dari limbah industri dan domestik, pembakaran sampah, hingga polusi udara yang jatuh ke dalam air. Senyawa ini biasanya melekat pada partikel yang mengapung dan lumpur. Namun pada sebagian senyawa masih berada dalam bentuk terlarut, sehingga bisa menimbulkan pencemaran pada air permukaan dan air tanah. Penyebab utama adanya PAH dalam lingkungan perairan menjadi perhatian global karena sifatnya yang persisten, toksik, bioakumulatif, serta beberapa di antaranya bersifat mutagenik dan karsinogenik. Oleh karena itu, PAH masuk dalam daftar bahan pencemar organik yang menjadi prioritas dan diawasi di berbagai negara.

Berikut adalah rincian sumber PAH dalam air:

  • Sumber Pirogenik (Pembakaran): Terbentuk dari pembakaran bahan organik tidak sempurna seperti mesin kendaraan bermotor, industri, sampah, dan pembakaran bahan bakar kapal.
  • Sumber Petrogenik (Minyak Bumi): Berasal dari tumpahan minyak, kebocoran oli/bahan bakar kapal, dan limbah cair dari kawasan perindustrian atau pelabuhan.
  • Limpasan Permukaan (Runoff): Air hujan yang membawa polutan dari jalan aspal, ban kendaraan, dan permukaan atap ke dalam sungai atau danau.
  • Sumber Alami: Meskipun jarang, kebakaran hutan dan letusan gunung berapi dapat melepaskan PAH ke lingkungan.
  • Kontaminasi Industri & Domestik: Limbah dari proses pengolahan minyak, pelarutan kayu yang diresapi kreosot, dan emisi industri.

Dampak PAH dalam Air

Terhadap dampak terhadap ekosistem air, yaitu:

  • Toksisitas Tinggi: Konsentrasi 0,1 – 5 ppm PAH terlarut dapat meracuni larva biota perairan.
  • Akumulasi Sedimen: PAH bersifat hidrofobik, menempel pada partikel sedimen, dan mengendap di dasar sungai atau danau.
  • Bioakumulasi: Terakumulasi dalam kadar tinggi pada tubuh organisme air (seperti kerang dan ikan) dan masuk ke rantai makanan.
  • Kerusakan Habitat: Mencemari ekosistem mangrove dan perairan pesisir.

Terhadap dampak terhadap kesehatan manusia, yaitu:

  • Karsinogenik: Paparan jangka panjang melalui air minum yang terkontaminasi atau konsumsi biota laut yang tercemar dapat memicu kanker.
  • Tumor & Penyakit Organ: PAH dapat mempengaruhi fungsi hati, ginjal, dan berpotensi menyebabkan tumor.
  • Gangguan Kesehatan: Menyebabkan iritasi tenggorokan, mata, hidung, dan gangguan pernapasan.
  • Cacat Janin: Terkait dengan risiko cacat jantung bawaan pada janin.

Pengujian PAH dalam air biasanya dilakukan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Proses ini dimulai dengan tahapekstraksi sampel, seperti Solid Phase Extraction (SPE), untuk memekatkan senyawa-senyawa yang dituju. Selanjutnya, sampel tersebut dianalisis dengan menggunakan kolom fase terbalik. Deteksi dilakukan dengan detektor UV-Vis untuk mengidentifikasi serta mengukur konsentrasi setiap senyawa PAH berdasarkan waktu retensi dan luas puncak pada kromatogram.

Metode HPLC terbukti efektif dalam analisis PAH karena memiliki sensitivitas dan selektivitas tinggi, terutama ketika dikombinasikan dengan detektor fluoresensi. Proses persiapan sampel yang benar serta pengaturan kondisi kromatografi yang optimal sangat berpengaruh terhadap keakuratan dan ketelitian hasil analisis. Oleh karena itu, pengujian PAH menggunakan HPLC menjadi pendekatan yang andal dalam mendukung pengawasan lingkungan, penegakan regulasi, serta perlindungan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

PT. Andaru Persada Mandiri adalah distributor alat laboratorium  High Performance Liquid Chromatography (HPLC), jika anda membutuhkan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) bisa menghubungi kami di whatsapp 087777277740 atau telepon 0251-7504679. Link alamat kami sertakan pada Google Maps.

Demikian artikel PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons) dalam Air, semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat